TARAKAN – Kondisi Pasar Tengguyun kian memprihatinkan. Ketidaktertiban penataan pasar, khususnya maraknya pedagang yang berjualan di luar area resmi, membuat pedagang di dalam pasar mengalami penurunan omzet hingga kerugian serius.
Sebut saja Hana, salah satu pedagang Pasar Tengguyun yang telah berjualan selama 15 tahun, mengaku kondisi tersebut sangat berdampak pada kelangsungan usahanya. Banyaknya penjual yang membuka lapak di depan pasar dengan harga lebih murah membuat pembeli enggan masuk ke dalam area pasar.
“Pasar jadi sepi karena penjual banyak di depan. Pembeli tidak mau masuk lagi,” ujarnya, Jumat (9/1/2026).
Hana juga menyebutkan bahawa ia telah beberapa kali menyampaikan keluhan kepada pemerintah daerah terkait kondisi pasar yang tidak tertata. Namun hingga kini, belum ada penertiban yang benar-benar dirasakan pedagang di dalam pasar.
“Saya berharap ada aturan yang lebih tegas. Kalau terus dibiarkan, pedagang di dalam bisa mati perlahan,” katanya.
Kondisi terburuk pernah dialami oleh Hana ketika seharian berjualan tanpa pembeli. Bahkan, ia hanya membawa pulang uang sebesar Rp 2.000.
“Hari itu benar-benar sepi. Saya hanya menunggu, tidak bisa berbuat apa-apa,” tuturnya lirih.
Tak hanya itu, banyak pedagang lainnya juga mulai kesulitan memenuhi kewajiban pembayaran sewa lapak. Menurut Hana, beberapa pedagang bahkan sudah berbulan-bulan tidak membayar karena tidak ada pemasukan.
“Kami tahu kewajiban harus bayar, tapi kalau tidak ada penghasilan, mau ambil uang dari mana?” keluhnya.
Ia berharap penataan pasar segera dibenahi, termasuk penertiban pedagang yang berjualan di luar area resmi. Selain merugikan pedagang, kondisi tersebut juga mengganggu akses kendaraan dan lahan parkir.
“Kalau semua tertib di tempat masing-masing, parkir juga tidak susah, pasar bisa hidup lagi,” harapnya.
Persoalan Pasar Tengguyun tak hanya dipicu oleh lapak liar. Pandemi COVID-19 dan menjamurnya penjualan daring turut memperparah kondisi pasar tradisional tersebut.
Jijah, salah satu pedagang pakaian yang telah berjualan selama hampir 20 tahun di Pasar Tengguyun, mengaku omzetnya menurun drastis dalam beberapa tahun terakhir.

“Dulu sehari bisa Rp 500 ribu, sekarang sangat sulit,” ungkapnya.
Meski merasakan dampak yang sama, Jijah mengaku belum pernah menyampaikan keluhan secara resmi kepada pemerintah. Ia memilih bertahan dengan sikap pasrah.
“Saya cuma bisa bersyukur. Kadang buka seharian tidak ada yang laku, tapi ini mata pencarian kami,” ujarnya.
Ia berharap kondisi pasar bisa kembali membaik, meskipun tantangan dari toko online terus meningkat. Pedagang pun dituntut untuk beradaptasi agar tetap bertahan di tengah perubahan pola belanja masyarakat.
Hingga kini, para pedagang Pasar Tengguyun berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah untuk menata kembali pasar agar lebih tertib, adil, dan mampu menghidupkan kembali roda perekonomian pedagang kecil.***(Dilla)





