TARAKAN – Ribuan peserta dari berbagai elemen masyarakat memadati ruas jalan Kota Tarakan dalam Pawai Budaya dan Kendaraan Hias Festival Iraw Tengkayu XV, Sabtu (4/7/2026). Kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian Festival Iraw Tengkayu XV, salah satu agenda budaya terbesar di Kalimantan Utara yang kembali masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.

Peserta pawai berasal dari sekolah, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), paguyuban, organisasi kemasyarakatan, hingga unsur TNI dan Polri. Mereka menampilkan beragam atraksi budaya, busana adat, serta kendaraan hias yang memeriahkan suasana di sepanjang rute pawai.
Kegiatan dimulai pukul 08.00 WITA dengan titik start di Stadion Datu Adil, Tarakan. Salah satu prosesi utama yang menjadi daya tarik masyarakat adalah Ngarak de Padaw Tuju Dulung, arak-arakan perahu adat yang menjadi simbol sekaligus ikon Festival Iraw Tengkayu.
Di antara ratusan peserta, Kerukunan Keluarga Besar Makassar (KKBM) Kalimantan Utara menjadi salah satu kontingen yang mencuri perhatian. Organisasi tersebut menurunkan sekitar 400 peserta, termasuk tim drum band yang diperkuat putra-putri terbaik KKBM Kota Tarakan.
Ketua KKBM Kalimantan Utara, H. Najamuddin, S.E., yang akrab disapa Haji Lontong, mengatakan keikutsertaan KKBM merupakan bentuk komitmen untuk mendukung pelestarian budaya sekaligus mempererat persaudaraan antarwarga di Kalimantan Utara.
Menurutnya, KKBM merupakan wadah pemersatu masyarakat Makassar di perantauan yang terdiri atas 10 pilar daerah di bawah naungan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS). Momentum Festival Iraw Tengkayu, kata dia, menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa keberagaman merupakan kekuatan dalam membangun daerah.
“Kami ingin membuktikan bahwa masyarakat Makassar yang berada di Kalimantan Utara tetap menjaga budaya, mempererat silaturahmi, serta berkontribusi bagi kemajuan Kota Tarakan dan Provinsi Kalimantan Utara. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Karena itu, kami menghormati Bumi Paguntaka sebagai daerah yang kami cintai bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan, penampilan budaya yang dibawakan KKBM bukan hanya sebagai upaya melestarikan warisan budaya Makassar, tetapi juga menjadi simbol toleransi, kebersamaan, dan keharmonisan antarsuku di Kalimantan Utara.
Haji Lontong berharap KKBM dapat terus berpartisipasi dalam berbagai agenda kebudayaan yang diselenggarakan pemerintah daerah sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan sektor budaya dan pariwisata di Kota Tarakan.
Festival Iraw Tengkayu XV tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya masyarakat Tidung sebagai budaya asli daerah, tetapi juga menjadi ruang bagi berbagai paguyuban dan komunitas lintas suku untuk memperkuat persatuan dalam bingkai keberagaman yang menjadi identitas Kota Tarakan dan Provinsi Kalimantan Utara.



