TARAKAN – Pagi itu, Jumat (26/9/2025), udara di Posko Tiga Pilar Kampung Trengginas, Kelurahan Karang Anyar, Tarakan Barat, terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan semata karena mentari yang baru saja meninggi, tetapi karena senyum-senyum yang terpancar dari wajah-wajah warga penerima bantuan sembako. Di sudut ruangan, tumpukan paket berisi beras, minyak goreng, telur, dan kebutuhan pokok lain sudah siap dibagikan.
Kapolsek Tarakan Barat berdiri berdampingan dengan Lurah Karang Anyar, Mashuri, S.Sos. Di sebelah mereka, Babinsa dan Bhabinkamtibmas ikut berjabat tangan dengan para perwakilan RT. Hari itu mereka kembali menjalankan program rutin “Jumat Berkah Tiga Pilar” – sebuah kegiatan sosial sederhana yang kini menjadi ikon kepedulian Kelurahan Karang Anyar.

Setiap pekan, lima kepala keluarga dari RT yang berbeda mendapat bantuan sembako. Sasaran utamanya adalah warga kurang mampu, janda, hingga warga sakit yang hidup sebatang kara. Bagi para penerima, paket itu bukan hanya soal nilai materi, tapi juga tanda bahwa pemerintah setempat benar-benar hadir dan peduli.
Namun, Jumat Berkah bukan satu-satunya program yang lahir dari sinergi tiga pilar. Kelurahan Karang Anyar juga aktif memfasilitasi pendataan program rehabilitasi rumah yang dananya berasal dari Dinas Perkim, pendataan Penerima Bantuan Iuran (PBI) untuk layanan kesehatan, hingga pemberian makanan bergizi bagi anak-anak stunting. Setiap bulan, warga menerima telur dan ayam segar sebagai upaya meningkatkan gizi keluarga.

“Ini bagian dari komitmen kami. Tidak hanya membantu secara sesaat, tetapi juga membangun sistem agar warga miskin dan anak-anak kita terjamin kesehatannya,” ujar Mashuri, S.Sos, Lurah Karang Anyar, sambil mengawasi pembagian sembako.
Sinergi antara Lurah, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas ini terasa nyata di lapangan. Mereka tidak hanya hadir saat seremoni, tetapi turun langsung mengawal program, mendengarkan keluhan warga, dan memastikan bantuan tepat sasaran. Para ketua RT pun dilibatkan penuh agar kegiatan benar-benar menjangkau mereka yang membutuhkan.
Model kolaborasi ini menjadikan Kelurahan Karang Anyar berbeda. Aparatur kelurahan tidak lagi sekadar menjalankan tugas administratif, tetapi bertransformasi menjadi motor penggerak sosial. Sementara TNI-Polri di tingkat desa bukan hanya berperan menjaga kamtibmas, tetapi juga mendukung pemberdayaan masyarakat.
Hasilnya? Warga mulai merasakan perubahan. Bantuan sembako rutin setiap Jumat meringankan beban mereka. Pendataan PBI memudahkan akses kesehatan. Anak-anak stunting mendapat asupan gizi tambahan. Dan yang tak kalah penting, mereka merasa diperhatikan.
“Dulu saya tidak tahu bagaimana cara mengajukan bantuan rehab rumah, sekarang ada pendataan langsung. Kami jadi lebih mudah mengurusnya,” kata Siti, seorang warga RT 57 yang menerima bantuan.
Di tengah banyaknya tantangan sosial perkotaan, apa yang dilakukan Kelurahan Karang Anyar bersama tiga pilar ini menjadi contoh bahwa pelayanan publik bisa mengakar ke bawah jika dilandasi kepedulian. Sinergi ini membuktikan bahwa pemerintah, aparat, dan masyarakat bisa berjalan beriringan memajukan lingkungan – dari hal kecil seperti sembako, hingga hal besar seperti perbaikan rumah dan gizi anak.
Kelurahan Karang Anyar mungkin hanyalah satu dari sekian kelurahan di Tarakan, tetapi semangat kolaborasinya layak menjadi inspirasi. Di posko sederhana di Kampung Trengginas, setiap Jumat, semangat gotong royong itu terus menyala – menebar berkah untuk warga yang membutuhkan.***(ARM02)



