NUNUKAN — Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Utara, Muhammad Nasir, menyoroti masih lebarnya kesenjangan antara produksi dan kebutuhan pangan di daerah, khususnya komoditas telur.
Berdasarkan data pemerintah provinsi, produksi telur lokal baru mencapai sekitar 2.100 ton, sementara kebutuhan masyarakat mencapai 25.000 ton. Kondisi ini menunjukkan tingginya ketergantungan Kaltara terhadap pasokan dari luar daerah.
“Sebagian besar kebutuhan pangan kita masih bergantung dari luar. Bahkan untuk sayur-mayur, masih banyak didatangkan dari Sulawesi,” ujarnya.
Menurut Nasir, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius karena Kalimantan Utara memiliki potensi besar untuk mewujudkan kemandirian pangan jika dikelola secara optimal.
Ia menilai, ketersediaan lahan yang luas perlu didukung dengan kebijakan yang tepat serta alokasi anggaran yang memadai agar sektor pertanian dan peternakan dapat berkembang lebih pesat.
“Potensi yang kita miliki cukup besar, tinggal bagaimana strategi pengembangannya agar sektor ini bisa tumbuh dan memenuhi kebutuhan daerah,” katanya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di bidang pertanian dan peternakan, termasuk pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan hasil produksi.
“Bukan hanya soal lahan, tapi juga penguatan SDM dan penerapan teknologi agar produktivitas bisa meningkat,” tambahnya.
Nasir berharap, dengan optimalisasi potensi yang ada, petani dan peternak lokal dapat lebih diberdayakan sehingga ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat ditekan secara bertahap.
“Jika semua potensi dimaksimalkan, kita optimistis Kaltara bisa menuju kemandirian pangan,” tutupnya.***



