TARAKAN – Delapan belas ormas adat menggalang kekuatan menolak kehadiran Grib Jaya di Kalimantan Utara, Sabtu (17/5). Aksi damai ini digelar usai munculnya kekhawatiran bahwa ormas baru itu bakal memicu kerusuhan seperti di daerah lain.

Sebelum memulai aksinya, sekitar pukul 09.00 Wita, terlebih dahulu ratusan massa ormas apel bersama di halaman Balai Adat Tidung, Simpang Keramat. Selanjutnya, massa melakukan konvoi melalui Jalan Kusuma Bangsa dan Jalan Yos Sudarso, sebelum menggelar orasi di depan Tarakan Mall. Kegiatan berlangsung tertib dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian.

Sedikitnya 18 ormas adat dari Kota Tarakan dan wilayah Kaltara ikut ambil bagian dalam aksi ini.
Koordinator aksi sekaligus Sekjen DPP Yayasan Lembaga Budaya Dayak Tidung Bersatu (YLBDTB), Riki Febriansyah, menyatakan penolakan tegas terhadap keberadaan Grib Jaya di Tarakan dan Kaltara.
“Penolakan muncul setelah melihat rekam jejak yang dikaitkan dengan Grib Jaya di media sosial, termasuk kasus pembakaran mobil polisi dan bentrok dengan warga di daerah lain. ‘Kami tidak mau itu terjadi di Bumi panguntaka dan Kaltara, ‘ tegas Riki.”
Ia juga meminta pemerintah, khususnya Kesbangpol, agar lebih selektif dalam melegalkan keberadaan ormas baru di daerah.
“Tarakan memiliki tatanan adat dan budaya yang harus dihormati. Jangan sampai kondusifitas daerah dikorbankan hanya karena hadirnya organisasi yang belum jelas manfaatnya bagi masyarakat,” lanjutnya.
Senada dengan Riki, Ketua DPC Laskar Pemuda Adat Dayak Kalimantan Timur – Kalimantan Utara (LPADKT), Robinson, juga menyuarakan penolakan keras.
“Kita sudah hidup rukun dan damai. Jangan biarkan kehadiran ormas baru merusak ketenangan ini,” tegasnya.***(ARM07)



